Pemotretan Proposal Purwakanthi Menjaga Tradisi

Hari itu aku dan tim Purwakanthi akan ada pemotretan materi proposal “Gathering Purwakanthi Menjaga Tradisi”. Kalau biasanya kami pakai foto yang sudah ada, kali ini mau buat yang spesial dan berbeda. Selain itu, foto model yang tampil pun sebagian besar penari baru yang memang wajahnya sangat mewakili tari bedoyo dan tariannya luwes. Ada lima penari yaitu mbak Dani, mbak Linda, Lara, mbak Susi dan bu Mercy. Masing-masing dari penari itu mewakili lima tarian berbeda.

Sebelum cerita seru dari pemotretan, aku ingin berbagi paham tentang hal yang melatarbelakangi Gathering Purwakanthi Menjaga Tradisi ini. Berangkat dari perhatian kami pada bagaimana kostum tarian sekarang sering disesuaikan dengan keadaan yang ada. Jadi pada pemotretan kali ini, kami ingin sharing tentang bagaimana kostum tarian yang akan dipakai harus sesuai dengan pakem yang ada.

Kami mau menggambarkan tradisi yang sebenar-benarnya harus dijaga. Kalau tari bedaya begini bajunya, srikandi begini bajunya. Makanya, Mpy juga foto detail ornamen yang dipakai, jenis kainnya apa, Bedoyo Ageng dan Bedoyo Alit bedanya apa, bagaimana kostum untuk Tari Gambyong; ada yang pakai dodot atau kebaya. Kita ingin memberi gambaran bahwa Purwakanthi sebagai salah satu komunitas yang menjaga tradisi dan pakem untuk suatu pertunjukan dengan sangat serius.

Kembali ke proses pemotretan, meskipun enggak jadi foto model sebagai penari, tapi pengurus Purwakanthi juga hadir untuk pemotretan. Pake kebaya kutubaru, seragaman motif lurik. Karena aku enggak bisa dandan-sanggulan sendiri dan enggak mau merepotkan tim yang pemotretan, jadinya sudah standby ke salon dari pukul 4 pagi. Setelah selesai dandan-sanggulan, pukul 7 pagi aku sudah ready di studio di Kawasan Kemang rekomendasi Bu Mercy.

Awal pemotretan, sempat ada diskusi kecil antara tim pengurus. Mulai dari backdrop yang mau digunakan; hitam atau abu-abu. Akhirnya, warna abu-abu yang dipilih. Setelah itu, giliran Mpy dan tim lighting yang sibuk cari tone yang cocok untuk pemotretan. Setelah semua siap, satu persatu penari masuk set dan mulai difoto.

Ternyata kesulitan mulai muncul ketika harus mengarahkan gaya para penari baru. Bukan cuma soal gerakan, tapi juga dibutuhkan hati, ekspresi dan akurasi angle yang diinginkan. Ditambah, Bu Guru juga sangat perfeksionis dalam melihat gerakan yang ditunjukan penari. Ada yang wajahnya bagus dan cocok dengan kostum, tapi ekspresi kurang pede. Ekspresi wajah jadi ngambang. Jadi dibutuhkan arahan extra untuk menumbuhkan kepercayaan diri dari modelnya untuk menjiwai kostum yang dipakainya.

Ada satu penari termuda di Purwakanthi masih kelas 1 SMP. Dia justru terlihat matang sekali pas pemotretan. Begitu pakai kostum, gaya langsung cocok! Semua ekspresi, gerakan dan hatinya terpancar dengan baik.

Setelah penari selesai, pengurus Purwakanthi pun lanjut pemotretan. Aku bareng Bu Mercy, Bu Wulan, Bu Lis dan Bu Martini foto bareng. Lucunya, pas selesai foto lah kok kelihatannya malah kaya istri muda-istri tua Demang. Hahaha. Kita sampai bikin becandaan lucu pas lihat fotonya, Mpy jadi anak; Bu Martini Istri Pertama yang sabar dan disegani semua istri-istri yang lain; Bu Wulan jadi istri kedua yang sering diajak umroh; Bu Mercy jadi istri ketiga yang suka belanja dan hambur-hambur uang; Aku jadi kayak istri ke empat yang senengan cuman di rumah masak dan ngurus anak-anak.. Ada-ada aja, ya… Hahaha.

Ada satu kejadian lucu sama Aji, lighting person pemotretan hari itu. Mungkin, Aji baru pertama kali kerja sama ibu-ibu yang gayanya suka aneh-aneh. Karena enggak tahan dia langsung keluar. “Saya keluar aja, deh,” kata Aji jengah saat lihat Bu Mercy bergaya-gaya seksi-seksi gitu. Mungkin Aji mikir, “Apa sih ibu-ibu ini enggak jelas. Hahahaha…”

Pelajaran yang bisa aku ambil dari pemotretan hari ini adalah ternyata enggak gampang jadi foto model dan pengarah gaya. Foto model harus bisa menjiwai apa yang akan disampaikan pada saat pemotretan. Dan pengarah gaya harus bisa mengarahkan dan membantu foto model untuk bisa mengekspresikan sesuai yang diminta. Plus, ternyata make up untuk foto dan sehari-hari itu beda banget. Aku sudah makeup dengan orang yang biasa pegang riasanku kondangan, ternyata pas foto banyak yang harus dikoreksi. Kalau untuk jadi foto model memang harus ada jiwanya. Mungkin foto model syur itu jiwanya sudah seksi banget kali, ya. Nah, untungnya pemotretan kali ini bareng Mpy yang sudah pengalaman sama aku di foto makanan, tari dan tahu kapan momen terbaik tarian untuk difoto.



You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.